Kisah Cinta yang Sederhana

Ini kisahku. Waktu aku kecil Ibu selalu berpesan kepadaku, “Jangan bermimpi terlalu tinggi”.

Aku mengangguk.

Sepuluh tahun yang lalu, seorang anak kecil berbaju putih dan bercelana pendek merah yang duduk di bangku belakang tengah asik memandangi teman perempuannya yang selalu menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Ibu guru di kelas.

Namanya Anindia, bintang kelas sekaligus primadona di mataku.

Sore itu, semesta memberikanku kesempatan untuk mengatakan sesuatu kepadanya. Beberapa detik kemudian ia tersenyum dan bergegas berlari meninggalkan aku.

Aku teringat pesan Ibuku.

“Jangan bermimpi terlalu tinggi.”

Aku mengangguk, kemudian tersenyum.

Ini bukan cerita cinta.

PERMEN

jika aku adalah permen, mungkin

aku tak mau menjadi permen karet

yang hanya terasa manis di awal

dan menjadi terasa pahit di akhir

.

jika aku adalah permen, mungkin

aku tak mau menjadi permen karet

yang susah payah kau besarkan

dan selalu berakhir dengan letupan

.

jika aku adalah permen, mungkin

aku tak mau menjadi permen karet

yang kau mamah ketika di penantian

dan kau buang ketika mulai bosan

..

[Writing Prompt] Jawbreaker

Writers' Secrets

dda39dfb45aac781224fda8d6217bbbb

#26 Lipstick Swatch

by superanggit

Sasha itu… bagaimana menjelaskannya? Impresi pertamaku terhadapnya, kupikir ia mengidap OCD. Aku tahu para wanita gemar sekali bersolek dan merias wajahnya, tapi Sasha berada di level yang berbeda. Ia mengganti warna lipstiknya setiap tiga, empat jam sekali. Malah aku pernah mendapati Sasha menghapus-pulas pewarna bibirnya tiap satu jam sekali.

View original post 1,113 more words

BUT YOU DIDN’T

By : Merrill Glass

Remember the day. I borrowed your brand new car and dented it?
I thought you’d kill me.
But you didn’t.

Remember that day. I vomited strawberry pie all over your new carpet?
I thought you’d hate me.
But you didn’t.

Remember that day. I dragged you to the beach, an it really was raining as you said it would?
I thought you’d say.”I told you so.”
But you didn’t.

Remember that day.
I flirted with all the guys to make you jealous, and you really did get jealous?
I thought you’d leave me.
But you didn’t.

Remember that day.
I forgot to tell you that dance was formal wear, and you ended up wearing jeans?
I thought you’d abandon me.
But you didn’t.

Yes. There was lots of things you didn’t to, but you put up with me.
Loved me.
Protected me.

There was lots and lots of things I wanted to make up to you, when you returned from Vietnam.
.
.
.
.
.
But you didn’t.
.

SESAK

Di pojok cafe di pinggiran kota Jogja. Entah, tiba-tiba kamu duduk di sebelahku.
“Tumben?”
“Aku tak bisa berlama-lama. Lusa aku akan menikah, orang tuaku sudah menjodohkanku.” Bisikmu cepat.
Bisikan yang lembut itu memekakkan telingaku.
“……”
“Tunggu! Tak adakah pelukan atau (mungkin) ciuman terakhir untukku?” Hardikku, ketika kamu mulai beranjak.
“Maaf, kamu siapa?”
Aku mengeluh dalam hati. Belum sampai satu menit kita putus.
Kuteguk kopi perlahan seiring denganmu yang berlalu menghilang di balik pintu.
Kopi ini, sebenarnya baik-baik saja. Sampai, ada masa lalu kita di tegukan pertama.

PECAH BERARTI MEMBELI

Lelaki itu menunduk, didengarnya dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut perempuan di depannya. Perempuan yang sudah berkali-kali menolak cintanya. “Kalau pun aku jual hatiku, tak akan kujual padamu,” bentak perempuan itu.

Suatu hari lelaki itu melihat tulisan di sebuah pusat perbelanjaan, “memecahkan berarti membeli”.

Kini ia tahu bagaimana mendapatkan perempuan itu.